Saturday, November 26, 2011

Pura Besakih, Pura Terbesar Di Dunia

Ada yang menyebut, Pura Besakih adalah ”Ibunya semua pura”. Sampai abad 21 ini, Pura Besakih memang pura yang terbesar. Siapa yang meletakkan batu pertama dalam pembangunan pura ini? Beliau adalah seorang tokoh spiritual India yang lama hidup di Jawa. Namanya Rsi Markandeya. Ada pula yang memberinya julukan Bhatara Giri Rawang.
Pura Besakih adalah gugusan 86 buah pura. Kompleks Pura Besakih terdiri atas 18 buah pura umum, 4 pura Catur Lawa, 11 pura pedharman, 6 pura non-pedharman, 29 pura dadia, 7 pura berkaitan dengan pura dadia dan 11 pura lainnya.
Alkisah, sebagaimana dituturkan dalam Lontar Markandeya, sebelum Pura Besakih berdiri megah seperti sekarang, dahulu kawasan itu berupa hutan belantara. Binatang buas masih banyak hidup di sana. Ketika itu juga belum ada Selat Bali yang kini dikenal dengan nama Segara Rupek. Daratan Bali dan Jawa dahulu kala konon masih menjadi satu, belum terpisahkan laut. Itulah sebabnya, daratan ini (Bali dan Jawa) sering disebut Pulau Dawa. Nama itu diberikan mungkin lantaran daratan ini panjang. Sebagaimana kita ketahui, kata “dawa” berarti panjang.


Berikut ini diuraikan secara ringkas nama-nama pura di kawasan Besakih:
1. Pura Pesimpangan
Sesuai dengan namanya, pura ini berfungsi sebagai tempat pesimpangan (singgah) setelah umat kembali dari Melasti di Segara Klotok, Klungkung. Piodalan di pura ini dilangsungkan pada hari Anggara Keliwon Julungwangi.

2. Pura Dalem Puri
Pura ini terletak paling selatan dari Pura Penataran Agung, dengan ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut. Di pura ini distanakan Bhatari Durga. Seusai menggelar Pitra Yadnya yaitu Ngaben dan Memukur atau Ngeroras, umat Hindu biasanya tangkil ke pura ini, mendak nuntun Sang Pitara untuk distanakan di sanggah ataupemerajan masing-masing. Di sekitar Pura Dalem Puri terdapat tanah lapang yang dinamakai Tegal penangsaran. Disitu ada sebuah tugu kecil di sebelah timur pura. Piodalan di pura ini pada hari Buda Kliwon Ugu, sedangn setiap tahun pada sasi Kepitu penanggal 1,3 atau 5 diselenggarakan upakara Yadnya Ngusaba Kepitu. Didalam pura inilah menurut suatu cerita, Sri Jayakasunu menrima pewarah-warah atau sabda dari Bhatara Durga tentang upacara Eka Dasar Rudra, Tawur Kesanga, Galungan, Kuningan dan lain-lainnya.
Fungsi Pura Dalem Puri dapat disimak dalam lontar Padmabhuwana dan Jayakasunu yang menyebutkan pawisik Bhatari Durga kepada Çri Haji Jayakasunu mengenai pentingnya perayaan Galungan.

Keterangan lontar Padmabhuwana bersifat mistis yang memaparkan hubungan Pancaksara dengan Pancabrahma. Yang disebut Pancaksara adalah : Nang, Mang, Cing, Wang, Yang. Yang disebut Pancabrahma adalah : Sang, Bang, Tang, Ang, Ing.
Di dalam cosmos, ING adalah nadir yaitu : prtiwi dan YANG adalah zenith yaitu : akasa. Di dalam Durgastawa, prtiwi adalah Durga dan di dalam Çiwastawa akasa adalah Çiwa. Durga berasal dari kata dur artinya sukar dan ga artinya jalan. Durga berarti sulit dijalani atau sulit didekati. Dengan demikian, maka tempat pemujaan beliau disebut Pura Dalem yang artinya tempat suci yang sangat dalam (dalam arti esensial). Durga nama lainnya : Singhawahini, Kalika, Semasana dan Bhairawi. Ini adalah aspek Çiwa dalam krodha. Dalam hal inilah Çiwa melakukan praline. Makaitu Pura Dalem di dalam Kahyangan Tiga, selalu berdampingandengan setra.
Pura Dalem Puri seperti sudah dikemukakan adalah tempat memuja Dewi Durga yaitu unsur pradhana dari Dewa Çiwa yang dipuja di Pura Besakih. Letak Pura Dalem Puri di sebelah barat daya Desa Besakih, memberikan petunjuk pula bahwa pura itu sebagai sthana Dewi Durga. Karena arah barat daya di dalam mistik disebut Krodhadesa yaitu tempatnya Durga atau Rudra.
Kenyataan sekarang, bahwa Pura Dalem Puri tidak berdampingan dengan setra melainkan berdampingan dengan Tegal Penangsaran. Mengapa ? Jawabannya adalah bahwa Desa Besakih mempunyai dua buah setra yang letaknya jauh di sebelah utara Pura Dalem Puri dan setra yang satu lagi letaknya di sebelah timur Pura Besakih. Kedua setra itu tidak mempunyai Pura Dalem dan masyarakat Besakih menganggap tidak perlu lagi membuat pura itu karena sudah ada Pura Dalem Puri yang nguwub (mewilayahkan) kedua setra itu.
Dahulu, di Bali ada tradisi bahwa setra untuk keluarga raja terpisah dengan setra untuk masyarakat biasa. Besar kemungkinannya, Tegal Penangsaran di sebelah Pura Dalem Puri, di zaman dahulu adalah setra tempat pabasmian (pembakaran jenazah) keluarga raja Çri Wira Dalem Kesari yang berkeraton di Besakih. Hal itu dibuktikan pula dengan adanya Pamerajan Selonding.
Ada pula kepercayaan, umat Hindu nunas pitra ke Pura Dalem Puri, setelah selesai melakukan upacara Ngaben. Konon, roh dari keluarga mereka yang diabenkan itu patut dimohon ke Pura Dalem Puri untuk dilinggihkan di sanggah/pamerajan. Mengapa ada kepercayaan semacam ini, sukar diketahui, karena hal itu didasarkan keterangan dari balian takson (maluasang).

3. Pura Manik Mas
Pura ini merupakan Kahyangan Dewi Pertiwi atau disebut juga Sang Hyang Giriputri (Saktinya Siwa). Piodalannya pada hari Saniscara Keliwon Wariga (Tumpek uduh).

4. Pura Bangun Sakti
Di pura ini distanakan Triantabhoga yaitu Hyang Naga Basukih, Hyang Naga Sesa dan Hyang Naga Taksaka. Piodalannya pada hari Buda Pon Watugunung. Di pura inilah konon Manik Angkeran dihidupkan kembali setelah beberapa lama wafat akibat kesalahannya hendak mencuri emas yang ada di ekor Hyang Naga Basukih. Manik Angkeran dihidupkan, berkat permohonan ayahnya yaitu Empu Sidhi Mantra. Selanjutnya Manik Angkeran agar mengabdikan hidupnya di Besakih dan tidak diperkenankan kembali ke Jawa. Agar tidak bisa pulang kembali, Empu Sidhi Mantra memotong Pulau Dawa dengan tongkat sakitnya. Sejak itulah, daratan di sebelah timur disebut Bali dan daratan di sebelah barat disebut Jawa.

5. Pura Ulun Kulkul
Di pura ini distanakan Hyang Mahadewa. Di sana ada sebuah kulkul dan sangat dikeramatkan. Dahulu, setiap desa atau banjar membuat kulkul, kulkul itu harus dipelaspas dan dimohonkan tirta di Pura Ulun Kulkul, agar memiliki taksu, yaitu ditaati oleh krama desa atau karma pemaksan pura. Piodalan di pura ini jatuh pada hari Saniscara Keliwon Kuningan atau tepat pada hari Raya Kuningan. Saat upacarayadnya, semua bangunan pelinggih yang terdapat didalamnya dihias dengan serba kuning.

6. Pura Merajan Selonding
Pura ini sering dihubungkan dengan tradisi yang menganggap bahwa pura itu merupakan bekas merajan dari seorang raja yang hidup pada zaman Bali Kuno yakni Sri Wira Dalem Kesari. Keraton raja itu diduga terletak di sebelah selatan Pura Merajan Selonding.
Sri Kesari Warmadewa, seorang raja Bali Kuno yang diperkirakan menurunkan raja-raja di Bali Kuno yang dikenal dengan dinasti Warmadewa. Salah seorang diantaranya adalah Udayana yang memerintah di Bali sekitar tahun 989-1022M.
Di pura ini ditemukan gambelan selonding. Sedangkan di Pura Selonding yang terletak di Desa Pecatu (Badung) tidak pernah ditemukan gambelan selonding. Kedua pura ini diduga memiliki kaitan erat. Dugaan tersebut didasarkan pada struktur bangunan dan pelinggih di Pura Selonding, dimana bangunan pokok yang dianggap sebagai pelinggih utama adalah linggih untuk pemerajan Ratu Gede Cakra Sari. Nama itu mungkin perubahan dari Ratu Gede Cakra Kesari yang dapat dihubungkan dengan Sri Wira Dalem Kesari. Jika ini benar, maka Pura Selonding Pecatu mempunyai latar belakang sejarah yang sama dengan pura Merajan Selonding Besakih sehingga dapat diduga bahwa kedua pura tersebut berasal dari zaman pemerintahan Sri Kesari Warmadewa yang memerintah di Bali sekitar tahun 825 Çaka. Istana atau puri Dalem Kesari Warmadewa di Besakih diberi nama Bumi Kuripan.
Raja Purana Besakih dalam bentuk lontar yang sering disebut Prasasti Bredah disimpan di pura ini. Demikian pula seperangkat gamelan Selonding. Dalam Lontar Catur Muni-Muni ada dituturkan asal mulanya tabuh gamelan di Bali. Dikisahkan, Bhagawan Naradha mengajarkan cara menabuh gamelan dengan gamelan selonding. Sementara itu dalam Markandeya Purana ditegaskan bahwa Resi Markandeya juga memakai nama Hyang Naradhatapa. Piodalan di pura merajan Selonding dilangsungkan pada hari Wraspati Keliwon Warigadian.

7. Pura Goa
Pura Gua merupakan tempat pemujaan Hyang Naga Basuki. Dahulu kala, konon Dang Hyang SIdhimantra tiap ke Besakih, mempersembahkan empehan (susu), madu dan telur kepada Hyang Naga Basuki. Ditempat inilah Manik Angkeran memotong ekor Naga Basuki, sehingga putra Sidhimantra itu dibakar jadiabu. Akantetapi Manik Angkeran dihidupkan lagi setelah Sidhimantra (Ayah Manik Angkeran) dapat memasang kembali ekor Naga Basuki lantaran tergiur dengan emas berlian yang menyala di ekor naga. Menurut tutur tua-tua di sana, gua itu tembus sampai ke Gua Lawah Klungkung. Hal itu diketahui secara kebetulan. Suatu hari masyarakat menggelar sabungan ayam di Gua Lawah. Salah seekor ayam lari masuk ke gua. Setelah dikejar, ayam itu keluar di gua Besakih. Piodalan di pura Gua pada hari Buda Wage Kelawu atau Buda Cemeng Kelawu.

8. Pura Banua
Di pura sini distanakan BhataraSri dan hari piodalannya jatuh pada hari Sukra Umanis Kelawu. Di sebelah timur pura ini, agak ke selatan, dahulu terdapat sebuah lumbung padi untuk tempat menyimpan sebagian hasil sawah druwe Pura Besakih. Namun kemudian, lumbung itu rubuh. Lumbung itu berfungsi sebagai sarana permohonan untuk penginih-inih. Kata “penginih-inih berasal dari kata “inih“ yang artinya irit. Jadi maksudnya, umat memohon agar dalam pengelolaan harta kekayaan dapat dilakukan seekonomis atau seefisien mungkin.

9. Pura Merajan Kanginan
Letak pura ini, di tepi sebuah sungai menghadap ke selatan. Di sini distanakan Bhatara Rambut Sedana dan terdapat pelinggih untuk memuliakan Empu Bradah dan Bhatara Indra. Adapun piodalannya jatuh pada hari Saniscara Keliwon Kerulut atau Tumpek Kerulut. Menurut informasi dari orang-orang tua di Besakih, konon pura ini bekas merajan. Danghyang Manik Angkeran sewaktu beliau menjadi pertapa di Besakih.

10. Pura Hyang Haluh (Jenggala)
Pura Jenggala sering juga disebut Pura Hyang Haluh dan difungsikan segala Kahyangan Prajapati. Mungkin karena di sebelah selatan pura ini, ada setra (kuburan). Tapi ada yang mengatakan, pura ini merupakan bekas pertapaan tokoh spiritual Mpu Kulputih. Dalam cerita disebutkan, Mpu Kulputih bertapa untuk mohon petunjuk, bagaimana cara melawan kelaliman Raja Mayadenawa yang melarang umat melangsungkan upacara yadnya di Besakih. Mpu Kulputih akhirnya mendapat petunjuk, yakni agar mohon bantuan ke Jambudwipa (India). Sementaraitu, Bhatara Indra juga turun dan membasmi Mayadenawa.

Tafsiran lain, ada yang mengatakan pura Jenggala juga merupakan Kahyangan Melanting dan ada pula yang memperkirakan semacam Pura Alas Angker. Di pura ini terdapat beberapa patung batu kuno menyerupai seorang resi, garuda dan berbagai bentuk lainnya. Patung yang disakralkan, dibuatkan pelinggih.

11. Pura Basukihan
Di pura ini Danghyang Markandeya menanam pedagingan pancadatu (lima jenis logam dengan kelengkapan upakaranya). Letak pura ini, di kaki Pura Penataran Agung yaitu di sebelah kanan tangga (kalau kita sedang menaiki tangga) Pura Penataran Agung. Pura ini memiliki pelinggih induk berupa meru tumpang pitu. Perlu juga diketahui, Pura Basukihan, Pura Penataran Agung dan Pura Dalem Puri adalah induk dari Kahyangan Tiga didesa-desa, yaitu Pura Puseh, Pura Desadan Pura Dalem. Dari kelengkapan pelinggih-pelinggih yang terdapat di masing-masing pura itu, demikian pula sastra-sastra agama yang ada hubungannya dengan tata cara membangun suatu pura, menunjukkan bahwa pura Basukihan itu adalah Pura Puseh Jagat, Pura PenataranAgung berfungi sebagai Pura Desa Jagat dan Pura Dalem Puri sebagai pura Dalem Jagat. Adapun yang distanakan di pura ini ialah Hyang Naga Basuki. Hari Piodalannya jatuh pada hari Buda Wage Kelawu atau Budha Cemeng Kelawu.

12. Pura Penataran Agung
Dalam Raja Purana Besakih dikatakan bahwa pura ini adalah tempat pesamuaning bhatara kabeh (pertemuan semua bhatara). Mungkin karena itulah, Pura Penataran Agung merupakan yang terbesar dan terbanyak bangunan-bangunan pelinggihnya, dan merupakan pusat dari semua pura yang ada di Besakih.

13. Pura Batu Madeg
Pura Batu Madeg letaknya di belah utara Penataran Agung. Pura ini cukup luas, banyak memiliki palinggih dan meru. Palinggih pokok adalah berupa meru tumpang 11, stana Hyang Wisnu. Piodalan di pura ini dilangsungkan pada hari Soma Umanis Tolu, Ngusabha Warigadian pada hari penanggal 5 sasih kelima dan Benaung Bayu pada hari tilem sasih kelima.
Palinggih-palinggih di Pura antara lain :
1. Bebaturan tempat memuja Bhatara Gajah Waktra. Konon para pejuang kemerdekaan banyak yang bersamadhi di palinggih ini.
2. Bebaturan linggih Bhatara Batudinding.
3. Gedong palinggih Bhatara Pujungsari.
4. Meru tumpang 11 palinggih Bhatara Manik Bungkah.
5. Meru tumpang 11 palinggih BhataraBagus Babotoh.
6. Meru tumpang II palinggih Bhatara Sakti Batu Madeg (Hyang Wisnu).
7. Bebaturan Palinggih I Ratu Kelabangapit, tempat masyarakat memohon keselamatan bila membuat empelan (bendungan besar) dan memohon agar sawah-sawahnya tidak mengalami kekeringan.
8. Meru tumpang 9 Pelinggih Bhatara Manik Buncing.
9. Meru tumpang 9 Palinggih Bhatara Manik Angkeran yang dimuliakan oleh prati sentananya (keturunannya) dan sekarang dikenal dengan sebutan Pinatih, sulang dan Wayabya, di samping oleh Masyarakat umat Hindu umumnya.
10. Bale Tegeh Palinggih Lingga.
11. Bale Pesamuhan Agung tempat pemujaan umum di hadapan Hyang Wisnu.
12. Bebaturan Pelinggih Bhatara Sanghyang Batur.
13. Gedong Palinggih Sanghyang Kumpi Batur.
14. Enam buah Bale Pelik diantaranya terdapat tempat pemujaan pada Dukuh Suladri yaitu di Bale Pelik bagian Timur.
15. Bangunan-Bangunan Bale Pegat, Bale Gong, Bale Pewedaan, dan Candi bentar.
Bila melangsungkan karya agung di Pura Besakih demikian pula pengaci di Pura Batu Madeg, semua palinggih yang terdapat di pura ini dihias dengan warna serba hitam, sesuai dengan warna Dewa Wisnu.

14. Pura Batu Kiduling Kreteg
Pura Kiduling Kreteg, terletak di sebelah Timur sungai melalui sebuah jembatan. Pelinggih pokoknya yakni Meru tumpang 11 stana Hyang Brahma. Selain disebut Pura Kiduling Kreteg, pura ini juga kadang-kadang disebut Pura Dangin Kreteg. Sebutan itu muncul mungkin karena pandangan yang berbeda, jika dilihat dari Pura Penataran Agung. Ada yang menganggap, pura ini berada di sebelah timur kreteg (jembatan) dan ada pula yang memandang di sebelah selatan kreteg (jembatan). Memang bias dimaklumi, karena Pura Besakih menghadap agak miring ke arah Barat berhadapan dengan Pura Luhur Uluwatu, Badung. Pura Luwur Uluwatu dan Pura Besakih memang disebut Hyang Hyangning Segara Ukir atau Hyang Hyangning Segara Gunung dalam arti Pura Luhur Uluwatu berfungsi predana dan Pura Besakih Purusa.
Piodalannya jatuh pada Anggara Wage Dungulan atau Penampahan Galungan. Sedangkan Aci Panyebab Brahma diselenggarakan setahun sekali pada hari purnama sasih kaenem. Aci Panyebab Brahma adalah upacara untuk memohon agar padi di sawah tidak merana dan hangus kekeringan. Saat upacara di pura ini, semua pengangge pelinggih berwarna merah sesuai dengan warna Dewa Brahma.

15. Pura Gelap
Pura Gelap berada di dataran yang agak tinggi. Pelinggih pokok di pura ini berupa meru tumpang 3, sebagai stana Hyang Iswara. Selain itu, ada juga sebuah Padma, Palinggih Siwa Lingga, Bebaturan Sapta Petala, Bale Pewedaan dan Bale Gong. Piodalan di Pura Gelap jatuh pada hari Soma Keliwon Wariga dan Aci Pengenteg Jagat pada setiap hari Purnama Sasih Karo.Sesuai dengan namanya (Aci Pengenteg Jagat), umat memohon agar diberi ketenangan, kedamaian dunia. Tiap karya, semua penganggedi pura ini berwarna serba putih, sesuai dengan warna Dewa Iswara.

16. Pura Pengubengan
Di pura ini, berdiri pelinggih Pesamuhan Bhatara Kabeh sebelum Bhatara Turun Kabeh di Penataran Agung. Pura ini letaknya di sebelah utara Pura Penataran Agung. Di sini terdapat pelinggih pokk meru tumpang 11 di samping balegong, bale pelik, piyasan. Di antara pura lainnya yang ada di Besakih, letak Pura Pengubengan paling tinggi. Masyarakat bisa mempersembahkan haturan-nya ke puncak Gunung Agung melalui Pura Pengubengan ini. Piodalan di Pura Pengubengan jatuh pada hari Budha Wage Kelawu.

17. Pura Batu Tirtha
Letak pura ini tidak jauh dari Pura Pengubengan, yaitu di sebelah timurnya. Di pura ini terdapat sumber tirtha yang dipergunakan bila ada karya-karya agung di Pura Besakih ataupun karya-karya agung didesa pekraman, atau di merajan. Piodalan di pura Tirtha jatuh pada hari Budha Wage Kelawu.

18. Pura Batu Peninjoan
Diberi nama Batu Peninjoan, karena di pura inilah Empu Kuturan meninjau wilayah Desa Besakih yang sekarang menjaditempat pelinggih-pelinggih di Pura Penataran Agung dan sekitarnya. Dari pura yang memiliki sebuah meru tumpang 9 ini, Empu Kuturan merencanakan pembangunan dan memperluas Pura Besakih. Ajarannya tentang tata cara membangun pura, membuat pelinggih meru, kahyangan tiga, berdasarkan aturan Asta Kosala Kosali sampai sekarang masih dijadikan pedoman oleh umat Hindu. Setelah wafat, beliau tidak lagi disebut Empu Kuturan, tetapi Bhatara Empu Kuturan. Beliau distanakan di meru tumpang 9 di pura Peninjoan ini, selain di tempat-tempat lain seperti di Silayukti (Padangbai-Karangasem). Dari Pura Peninjoan, semua pelinggih di PUra Penataran Agung dapat dilihat dengan jelas. Selain meru tumpang 9, pura ini juga dilengkapi dengan dua buah Bale Pelik dan Piyasan. Piodalan di Pura Peninjoan dilangsungkan pada hari Wraspati Wage Tolu.

No comments:

Post a Comment